Saturday, October 15, 2011

E-learning, Cermin Pendidikan Masa Kini: Siapkah kita?

Posted by wahyu cahyani at 8:42 AM 0 comments


Rangkuman :
Perkembangan teknologi yang semakin canggih kini telah mengubah dunia pendidikan. Pembelajaran yang dulunya menggunakan cara konvensional berangsur-angsur berubah menjadi modern. Penggunaan alat-alat teknologi dalam pembelajaran memberikan banyak manfaat kepada peserta didik ataupun pendidik. Namun di balik itu semua, banyak pula dampak negatif dari perkembangan teknologi tersebut. Selain berbagai kendala, bangsa kita, secara mental juga kurang siap dalam menghadapi tantangan jaman yang penuh inovasi.
Banyak hal yang dapat kita lakukan sekarang. Meski masih sangat sulit, kita harus berusaha memperbaharui diri menjadi lebih baik. Sebisa mungkin selalu mengikuti perkembangan jaman agar kita tidak tertinggal oleh negara-negara lain. Caranya sederhana saja, mulailah dari sekarang dan dari hal yang kecil. Dalam esai ini disajikan beberapa penerapan e-learning di Indonesia. Kemajuan bangsa tergantung kepada generasi mudanya. Generasi muda yang berkualitas bertitik tolak pada pendidikan di negara tersebut. Menjadi Indonesia yang lebih baik berarti meningkatkan kualitas pendidikan kita sesuai dengan perkembangan jaman. Teknologi yang saat ini terkenal dalam pendidikan adalah e-learning. Bergegaslah untuk menyesuaikan diri dengan teknologi pendidikan yang lebih baik.








            Dewasa ini perkembangan teknologi sangat pesat. Hal ini mengubah paradigma masyarakat dalam mencari informasi. Kini, untuk mencari informasi tidak hanya terbatas pada surat kabar, audio visual dan elektronik, tetapi juga melalui sumber informasi lain diantaranya jaringan internet.
            Perkembangan teknologi tersebut juga memberi dampak pada pendidikan, yang mana pendidikan merupakan proses komunikasi dan informasi antara pendidik dan siswa. Oleh karena itu, tercetuslah ide tentang e-learning.
            E-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya komputer. Dalam hal ini, e-learning tidak dapat dipisahkan dari jaringan internet, karena media tersebut yang dijadikan sarana penyajian ide. E-learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada. E-learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Jadi teknologi informasi berperan besar di sini.
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-learning sebagai berikut :
1.      Pembelajaran jarak jauh.
E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Pembelajar belajar dari komputer di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
2.      Pembelajaran dengan perangkat komputer
E-learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
3.      Pembelajaran formal vs. informal
E-learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-learning untuk umum. E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
4.      Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.
Walaupun sepertinya e-learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:
a.       Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan
b.      Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
c.       Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
d.      Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.
Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh.
E-learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.
            Dalam penerapannya, ada beberapa hal yang menghambat. Pertama, masih kurangnya kemampuan menggunakan internet sebagai sumber pembelajaran. Hal itu dikarenakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan tersebut masih terbatas jumlahnya. Di era teknologi seperti sekarang ini, sudah banyak orang yang dapat menggunakan internet. Akan tetapi, hanya sedikit yang memiliki kemampuan dalam mengaplikasikannya sebagai sumber pembelajaran. Tidak hanya kemampuan mencari informasi saja, namun juga keterampilan untuk mengolahnya sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran yang menarik. Kedua, biaya yang diperlukan masih relatif mahal. Untuk mewujudkan e-learning, diperlukan berbagai macam perangkat dan jaringan internet. Tentu saja ini membutuhkan banyak biaya. Di Indonesia, universitas yang menggunakan e-learning masih bisa dihitung dengan jari. Untuk sekolah-sekolah biasa, biaya menjadi masalah yang krusial sehingga belum banyak sekolah yang menggunakan e-learning. Ketiga, belum memadainya perhatian dari berbagai pihak terhadap pembelajaran melalui internet. Internet yang sejatinya digunakan sebagai sumber pembelajaran, penggunaanya kurang dimaksimalkan. Hal ini seharusnya menggugah berbagai pihak untuk berusaha menjadikan internet sebagai sumber pembelajaran.  Sudahkah perhatian itu diberikan? Keempat, belum memadainya infrastruktur pendukung untuk daerah-daerah tertentu. Seperti kita tahu, saudara-saudara kita yang berada di daerah pedalaman, misalnya Papua, belum mendapat pendidikan yang layak. Sehingga untuk mewujudkan e-learning ini masih membutuhkan waktu yang panjang. Belum tersedianya infrastruktur pendukung menjadi masalah yang perlu diselesaikan. Misalnya saja dengan memperbanyak pembangunan sekolah, pengadaan jaringan internet, pengadaan perangkat elektronik dan sebagainya. Kelima, belum adanya standar minimum implementasi e-learning yang resmi dari pemerintah. Kurang adanya rasa peduli terhadap e-learning mengakibatkan kurang adanya aturan ataupun standar bagi pelaksanaan e-learning di Indonesia.
            Metode pendidikan lama sudah tidak efektif untuk diterapkan di masa kini karena terbentur ruang dan waktu. E-learning adalah solusinya. Menerapkan e-learning dapat dengan berbagai cara. Untuk menyampaikan pembelajarannya, e-learning tidak harus selalu menggunakan internet. Banyak media-media lain yang dapat digunakan selain internet. Seperti intranet, cd, dvd, mp3, PDA dan lain-lain. Penggunaan teknologi internet pada e-learning umumnya dengan pertimbangan memiliki jangkauan yang luas. Ada juga beberapa lembaga pendidikan yang menggunakan jaringan intranet sebagai media e-learning sehingga biaya yang disiapkan relatif lebih murah. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi. Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Selain sikap positif peserta didik dan tenaga kependidikan, alasan/pertimbangan lain untuk menggunakan e-learning, di antaranya adalah karena harga perangkat komputer yang semakin lama semakin relatif murah (tidak lagi diperlakukan sebagai barang mewah), peningkatan kemampuan perangkat komputer yang mampu mengolah data lebih cepat dan kapasitas penyimpanan data yang semakin besar, memperluas akses atau jaringan komunikasi, memperpendek jarak dan mempermudah komunikasi, mempermudah pencarian atau penelusuran informasi melalui internet.
            E-learning memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif dari penerapan e-learning antara lain dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar karena disertai dengan grafik, video, gambar. Hal itu akan meningkatkan motivasi siswa dalam proses belajar. Keuntungan lain belajar dengan metode e-learning seperti menghemat waktu , menghemat biaya perjalanan, menghemat biaya pendidikan, menjangkau wilayah geografis yang luas dan melatih kemandirian para pelajar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, penerapan e-learning juga dapat memberikan efek negatif. Hubungan antara pendidik dan siswa semakin jauh dikarenakan penggunaan media perangkat komputer. Dengan adanya media tersebut komunikasi pendidik dan siswa semakin berkurang.Kehadiran guru sebagai makhluk hidup yang dapat berinteraksi secara langsung dengan para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik e-learning ini. Inilah ciri khas dari kekurangan e-learning yang tidak bagus.
Salah satu kota yang telah menerapkan e-learning di sekolah adalah Yogyakarta. Sebanyak 500 SD dan SMP di Yogyakarta menjadi model program pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk peningkatan mutu pendidikan nasional. Saat ini, 110 SD dan SMP di DIY sudah menerapkan program pemanfaatan TIK. Tahun 2012, total 500 sekolah (300 SD dan 200 SMP) di DIY akan menerapkan program itu. Selain itu, prestasi yang luar biasa dicatat oleh Tim IT SMA Negeri 1 Yogyakarta. TIM IT SMAN 1 Yogyakarta berhasil menjadi juara satu E-learning Award  2010 Tingkat Nasional kategori sekolah yang diselenggarakan oleh Pustekkom (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan)–Kemendiknas pada ajang Festival Pendidikan 2010.
            Di balik sebuah pembelajaran yang modern tersebut, di masyarakat kita berkembang mitos-mitos tentang e-learning, diantaranya :
1.      Biaya untuk mengimplementasikan e-learning mahal
Sekolah menganggap biaya e-learning mahal, padahal aplikasi yang diperlukan untuk mulai mengimplementasikan e-learning sangatlah murah, bahkan bisa dikatakan gratis.
2.      Membuat materi e-learning sulit dan membutuhkan waktu yang lama
Jika kita dapat mengetik pada aplikasi pengolah kata (MS Word atau Open Office Writer), maka kita dapat membuat materi e-learning. Penggunaan aplikasi untuk e-learning tidaklah sulit dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Jika kita sudah memiliki materi dalam bentuk dokumen atau powerpoint, tidaklah membutuhkan tingkat kecakapan yang tinggi maupun waktu yang lama. Dari sisi teknis tidaklah terlalu sulit dan tidak terlalu lama dalam pembuatannya.
3.       Pendidik terlalu disibukkan dengan kegiatan administratif yang menyita waktu
Mitos atau mungkin lebih tepat alasan ini paling sering kita jumpai. Pendidik mengemukakan bahwa mereka terlalu disibukkan dengan kegiatan administratif. Memang benar dengan perubahan kurikulum banyak sekali kegiatan administratif yang harus dilakukan, tetapi kegiatan administratif ini repetitif, yakni berulang-ulang dari tahun ke tahun. Hanya membutuhkan sedikit penyesuaian dari tahun ke tahun. Dengan menggunakan e-learning, sebetulnya konten atau materi pembelajaran dapat satu kali dilakukan kemudian disimpan dan diupdate apabila diperlukan. Materi pembelajaran yang disampaikan dengan e-learning justru mempersingkat waktu pendidik untuk persiapan mengajar.
4.      Peserta didik tidak memiliki akses terhadap komputer dan/atau internet
Berdasarkan data terakhir (3 Mei 2011) Indonesia perlu berbangga hati (ataukah bersedih?) dengan menjadi negara pengguna facebook kedua terbesar setelah Amerika Serikat. Pengguna Facebook Indonesia mencapai 36.358.100 pengguna. Dari 36 juta pengguna ini, sekitar 70% berada pada usia belajar (Usia 18-24: 43,4%; usia 14-17: 24,6%; Usia <13: 1,8%). Total pelajar yang tercatat pada Data Pokok Pendidikan Kemendiknas, total pelajar di Indonesia sebanyak 41.191.778 sedangkan mahasiswa sebanyak 4.8 juta. Ini artinya lebih dari 50% pelajar Indonesia dapat mengakses Internet. Meskipun data pengguna Facebook ini tidak dapat dijadikan patokan karena bisa jadi satu pelajar memiliki beberapa akun Facebook, tetapi dapat terlihat bahwa lebih dari setengah pelajar di Indonesia memiliki akses terhadap komputer dan/atau internet. Jumlah ini dari tahun ke tahun meningkat dengan pesat. Jika pelajar dapat mengakses Facebook, maka mereka dapat pula mengakses konten e-learning. Dari data tersebut timbul pertanyaan: Akankah mereka (peserta didik) mengakses konten e-learning yang dibuat sekolah sama seperti mereka mengakses Facebook?
5.      Tidak ada interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Penelitian yang dilakukan oleh Lim dan Sudweeks (2008) bahwa peserta didik belajar melalui computer-mediated communication mempengaruhi persepsi dan meningkatkan partisipasi peserta didik dalam upaya memahami materi yang sedang dipelajari.
Hampir semua mitos di atas memiliki kendala dari sisi teknis. Mitos-mitos ini sedikit sekali yang berhubungan dengan pembelajaran. Sudah saatnya sekolah dan pendidik melihat e-learning bukan dari teknologi yang digunakan tetapi bagaimana dan kapan menggunakannya.
           Di sisi lain, masih banyak sekolah yang memiliki fasilitas yang minim. Berdasarkan penelitian hampir semua sekolah di Kabupaten Ende (NTT) memiliki sarana prasarana yang masih sangat minim. Selain itu, kualitas SDM pengajar/guru juga sangat kurang.
            Alternatif yang bisa dilakukan antara lain :
a.       Jika sekolah memiliki komputer dan terhubung pada jaringan internet maka e-learning dapat berjalan secara efektif dan efisien,
b.      Jika sekolah memiliki komputer tetapi tidak terhubung ke internet maka dapat mendownload materi di tempat lain,
c.       Jika sekolah tidak memiliki komputer maka pelajar dapat diperkenalkan e-learning melalui cara lain misalnya melalui TV, CD, video.
Di dunia modern ini, pemanfaatan teknologi menjadi penting termasuk di dunia pendidikan. Pendidikan di daerah pedalaman menjadi kunci utama untuk mengubah masyarakatnya menjadi lebih maju. Jika pendidikan yang memadai saja belum bisa didapat, bagaimana mungkin menerapkan pembelajaran dengan sistem e-learning? Sejatinya, teknologi akan berkembang dengan lebih cepat. Dalam arti, kekurangan yang ada sekarang akan disempurnakan menjadi teknologi yang lebih canggih. Sudah siapkah kita menghadapinya?









Daftar Pustaka :

www.teledoredu.com(diunduh tanggal 9 Oktober 2011 jam 18:25)

Schramm, W. (1977). Big media, little media, tools and technologies for instruction. Beverly
Hills, CA: Sage Publications

Johnston, J. (1987). Electronic learning: From audiotape to videodisk. Englewood  Cliffs, NJ, Lawrence Erlbaum Associates.

Russel, T. L. (1992). Television’s indelible impact on distance education: what we should have learned from comparative research. Research in Distance Education, 4 (4), 2-4.

Schlosser, C. dan Anderson, M. (1994). Distance Education: Review of the literature. Washington, DC: AECT Publications.

Lim, L.H. and Sudweeks, F. (2008). Chatting to learn: a case study on student experiences of online moderated synchronous discussions in virtual tutorials.
Nagash, S. and Whitman, M.E., (eds.) Handbook of Distance Learning for Real-Time and Asynchronous Information. Idea Group, Hershey, PA, hal. 170-191.










Guru Sebagai Pembunuh Generasi Penerus Bangsa?

Posted by wahyu cahyani at 8:41 AM 1 comments

Rangkuman :
Guru merupakan agen perubahan bagi bangsa ini. Sudahkah guru benar-benar menjadi seorang pendidik? Ataukah itu semua hanya kamuflase belaka? Tujuan penulisan esai ini adalah untuk memberikan paradigma baru kepada pembaca tentang kondisi pendidikan di masa kini. Ternyata masih banyak guru yang berperan sebagai seorang pembunuh. Dalam arti, pembunuh kreatifitas dan kemampuan siswa yang sebenarnya dapat berkembang secara optimal.
Kita harus bergegas berbenah untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran kontekstual di setiap sekolah. Hal tersebut akan efektif jika kita menyadari kecerdasan masing-masing anak. Guru akan lebih memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kelebihannya. Sehingga guru dapat mengurangi dominasinya dalam kelas. Mengenali karakter siswa serta memberi mereka lebih banyak ruang untuk belajar, secara tidak langsung akan melatih pola pikir mereka tentang suatu hal.
Perubahan dimulai dari sebuah pola pikir. Untuk membuat Indonesia lebih baik adalah memulainya dari pikiran yang baik. Pikiran yang baik dapat tercipta dari pribadi-pribadi yang terdidik, penuh optimisme, dan bukan sekedar memiliki mental biasa. Dari seorang guru inilah kunci dari segala perubahan di negeri ini.



            Apa yang terbersit dalam pikiran kita tentang guru? Adakah kenangan buruk yang selalu kita ingat dari sosok seorang guru? Ataukah peristiwa yang indah dan menyenangkan? Dalam bahasa Jawa,guru adalah orang yang digugu(dipatuhi) dan ditiru. Sudahkah semua guru patut untuk dijadikan teladan? Apa yang sebenarnya terjadi dalam pendidikan di negeri ini?
            Guru adalah salah satu profesi yang berat. Berat, karena memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Generasi penerus bangsa akan bergantung pada tangan seorang guru. Itulah sebabnya guru biasa kita sebut sebagai agen perubahan. Lebih tepatnya agen perubahan bangsa menjadi lebih baik dan berkualitas. Gagasan ini seharusnya menjadi bagian hakiki seorang guru. Mempromosikan hal ini tidaklah mudah. Misalnya : Guru lebih merasa nyaman duduk di depan kelas daripada mempersiapkan berbagai alat peraga. Pendidik tunas bangsa ini mempunyai peran yang sangat kompleks. Seorang guru adalah pengajar saat ia memberikan materi pelajaran sekaligus sebagai manajer kelas. Di samping itu, ia adalah sang motivator untuk anak didiknya. Sungguh, apa yang telah mereka berikan adalah semata-mata demi kebaikan anak-anak bangsa ini. Bahkan, seorang guru adalah aktris yang paling baik. Dalam arti, apapun masalah yang sedang dihadapi, seorang guru tidak akan menunjukkannya secara berlebihan.
            Guru di era modern seperti saat ini masih sangat memprihatinkan. Bisa jadi, guru adalah seorang pembunuh. Pembunuh bagi generasi muda yang kelak akan meneruskan kepemimpinan bangsa ini. Aneh? Memang. Mengapa bisa disebut sebagai pembunuh? Bagaimana bisa seorang guru yang besar jasanya melakukan tindakan kriminal seperti itu?
            Apakahguru itu rajin masuk ke sekolah?  Berdasarkan survei yang dilakukan untuk Laporan Pembangunan Dunia, 20% tenaga pengajar Indonesia tidak masuk sekolah pada saat dilakukan pengecekan di sekolah-sekolah yang terpilih secara random. Jadi,  terdapat 20% dari dana yang digunakan untuk membiayai tenaga pengajar tidak memberikan manfaat secara langsung kepada murid, karena ternyata tenaga pengajar tersebut tidak berada di kelas. Kinerja guru yang seperti itu masih jauh dari yang diharapkan. Korupsi waktu dan ketidakdisiplinan akan memunculkan masalah besar. Sejatinya, hal-hal sepele akan memberikan pengaruh bagi hal-hal yang lebih besar.
            Bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan guru? Faktanya adalah proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas. Siswa kurang diberi ruang dan kesempatan untuk berkreasi dan mengekspresikan pendapat yang berbeda. Inilah yang kini telah menjadi budaya. Pahlawan Tanpa Tanda Jasa adalah sosok yang dapat mengubah dan menciptakan budaya baru yang lebih baik. Dari pengalaman, kita juga tahu bahwa kurangnya komunikasi antara guru dan siswa dapat menyebabkan kesalahpahaman dan terjalinnya relasi yang buruk. Anekdot dari sebuah daerah di kawasan timur Indonesia yang masih dilanda konflik berikut ini adalah sebuah contoh.
Deni, seorang murid SD di sebuah desa, suatu hari pulang sekolah sambil menangis. Bapaknya, yang keheranan, bertanya kepada dia, "Deni, mengapa kamu menangis?". “
“Itu, Bapa Guru ada kasih pukul saya," jawab Deni. Si bapak dengan gusar pergi ke sekolah dan bertanya kepada guru, "Mengapa Bapa Guru kasih pukul anak saya?" Guru pun menjawab, "Saya marah karena waktu saya tanyakan siapakah penanda tangan teks proklamasi kemerdekaan, semua murid diam tak menjawab. Saya tanya sekali lagi, semua murid masih diam tak ada yang menjawab. Akhirnya saya bertanya kepada Deni. Tapi Deni malah bilang, 'Yang tanda tangan bukan saya, Bapa!' Itu mengapa saya kasih pukul dia!"
Setelah mendengar penjelasan sang guru, akhirnya sang bapak pun paham dan bergegas pulang. Tak lama kemudian, dia kembali ke sekolah bersama Deni, yang tampak makin berurai air mata. Sambil menjewer telinga Deni, si bapak menghadap sang guru dan berkata, "Bapa Guru, ini Deni. Saya sudah pukul dia. Sekarang dia sudah mengaku kalau dia yang tanda tangani itu teks proklamasi."
            Pembunuh. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sebagian besar guru di Indonesia saat ini. Pembunuh karakter, pembunuh kreatifitas, dan yang lebih parah lagi adalah pembunuh kemampuan serta kecerdasan siswa. Sungguh, realita yang ada di sekitar kita. Dekat, namun tidak terjangkau oleh pikiran kita. Kita seakan tidak sadar ataukah tidak ingin membuka mata terhadap masalah sekecil itu?
            Apakah kita mungkin dapat berharap anak-anak kita akan aktif, kreatif, dan mampu berkontribusi kepada perkembangan Indonesia dengan Pembelajaran-Pasif? Itu sama saja melakukan tindakan bodoh dan tidak masuk akal. Membuat prioritas pendidikan adalah salah satu kuncinya. Prioritas-prioritas yang bisa kita lakukan antara lain :
1. Memperbaiki semua sekolah yang rusak supaya sesuai dengan standar nasional, lengkap dengan sarana/prasarana sehingga aman, nyaman, dan kondusif untuk semua pelajar. Data menunjukkan, sebanyak 20,97 persen ruang kelas SD rusak, sedangkan SMP sekitar 20,06 persen. Sampai 2011 ini ruang kelas SD yang rusak terdata 187.855 ruang dari total 895.761 ruang kelas. Di tingkat SMP ada 39.554 ruang rusak dari 192.029 ruang kelas yang ada.

2.Mengimplementasikan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) di semua sekolah supaya standar pembelajaran kita sesuai dan kompetitif dengan negara lain. Kapan kita akan menghadapi isu-isu yang terbukti meningkatkan mutu pendidikan? Pendidikan yang terbaik adalah: Pendidikan berbasis guru yang mampu dan sejahtera, di sekolah yang bermutu, dengan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi.
3.Menggunakan "Appropriate Technology” atau teknologi yang sesuai dan sudah ada di semua sekolah. Teknologi yang terbaik, terjangkau, dan dapat meningkatkan kreativitas siswa-siswi maupun kreativitas guru. Hal ini tergantung dari sumber yang ada di masing-masing daerah. Daerah yang satu memiliki sumber daya yang berbeda dengan daerah yang lain.
4.Meningkatkan profesionalisme dan tanggung jawab guru untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan mengajar sendiri, seperti guru profesional di negara lain. Mengingat guru adalah pelaksana pendidikan.
5. Melaksanakan "Metodologi Pembelajaran-Aktif dan Kontekstual" sesuai denganstandar dunia pada saat ini sehingga kita dapat bersaing dengan negara-negara lainnya.
            Masih banyak cara lagi yang bisa kita lakukan. Kita dapat pula meniru cara seorang guru dalam mendidik siswanya melalui etika hidup yang benar.Salah satu sekolah di Seoul ini memiliki cara unik untuk belajar bagi murid-muridnya.Unik karena sistem pembelajaran lebih menekankan cara tradisional dan pendidikan moral serta etika. Pelajaran yang paling penting adalah mengajarkan siswanya cara menjalani hidup dengan benar melalui pengajaran konfusianisme. Lebih menekankan nilai berbakti, menghormati orangtua, dan tanggung jawab sosial.
            Cara yang baru-baru ini mulai dikembangkan adalah Model Pembelajaran Multiple Intelligencess atau Kecerdasan Majemuk. Teori yang dikemukakan oleh Howard Gardner ini menggugah dunia pendidikan. Kecerdasan seseorang saat ini lebih kompleks dan berbeda. Semua orang memiliki potensi dalam berbagai bidang. Akan tetapi, seseorang hanya akan memiliki beberapa bakat yang menonjol. Dari bakat-bakat yang menonjol tersebut, hanya sedikit yang akan menjadi sebuah hobi. Dengan melakukan hobi secara terus menerus maka hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan. Kecerdasan dapat berkembang secara optimal apabila kita memberikan stimulus secara dinamis. Kecerdasan yang tinggi akan menjadikannya sebuah profesi.
            Lalu apa hubungan antara pembelajaran kontekstual dengan kecerdasan seseorang? Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang disesuaikan dengan lingkungan dan sumber daya yang ada. Dengan memaksimalkan hal tersebut, maka siswa dapat belajar dengan lebih mudah. Berlatih dan belajar lebih banyak akan mengasah kecerdasan seseorang. Memanfaatkan apa yang ada dan menyampaikannya secara kreatif akan meningkatkan minat belajar siswa.
Guru seakan tidak mau repot. Lebih mudah menggunakan metode ceramah yang murah meriah. Hasilnya? Siswa hanya akan belajar mendengar dan menghafal. Pola pikir siswa juga tidak akan berkembang. Pantas saja, terkadang banyak orang yang lebih mementingkan hasil daripada proses. Sebagai analogi, saat kita melihat kue yang sudah jadi lalu kita memakannya. Rasanya sangat enak. Sedangkan kita tidak mengetahui proses pembuatannya.Ketika suatu saat kita ingin membuat kue seperti itu, kita tidak akan bisa membuatnya. Berbeda jika kita mengetahui dan memahami bagaimana proses pembuatan kue tersebut. Sudah bisa dipastikan bahwa kita akan dapat membuatnya lagi. Pembelajaran yang hanya menyuguhkan hasil tanpa melalui proses yang baik jelas akan memberikan dampak yang buruk bagi cara pandang siswa. Faktanya, guru terkadang menjelma sebagai monster yang mengerikan bagi anak-anak. Siswa diajarkan diajarkan materi yang jauh melebihi kemampuan nalarnya. Secara akademis, mereka bagus. Namun, begitu disuruh melakukan praktek, mereka kelabakan. Seperti sebuah adegan dari film 3 Idiots, hanya Rancho yang mempraktekkan air garam sebagai elektrolit dengan cara menyetrum seniornya yang kencing di depan pintunya dengan sebuah sendok. Semua orang tahu kalau air garam adalah elektrolit, tapi tidak semua orang bisa mempraktekkan kegunaannya.
Orang Amerika berbeda lagi. Mereka memiliki rasa ingin tahu dan sikap ilmiah yang cukup tinggi. Sistem pendidikan berbasis pada learning by doing atau “belajar dengan cara melakukan”. Jika anda berkunjung ke sekolah Amerika, biasanya pada pelajaran sains, lab pasti ramai. Selain itu, di beberapa sekolah, terdapat kewajiban kerja amal. Ini melatih soft skill siswa untuk hidup di masyarakat. Sebagai perbandingan, dalam kurikulum Amerika tidak dikenal adanya “Pendidikan Agama” ataupun “Budi Pekerti” atau “Pendidikan Anti-Korupsi”. Tapi apakah itu berarti mereka tidak punya moral dan akhlak? Salah Besar! Di Indonesia, kita hanya mempelajari teori budi pekerti, bukan mempraktekkan, sedang orang Amerika sudah belajar etika dari masyarakat sejak kecil.
Ketika seorang siswa tidak bisa mengerjakan tugasnya, terkadang ada guru yang melakukan kekerasan fisik ataupun psikis. Sungguh mengherankan, di era modern seperti sekarang ini masih terdapat tindakan guru yang sangat primitif seperti itu. Gagasan ini diperkuat dengan adanya hasil survei yang dilakukan Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2011 menunjukkan semakin tinggi kasus kekerasan di sekolah. Perasaan tidak puas para siswa terhadap situasi kehidupan di sekolah juga tinggi. Di luar itu, ditemukan masalah kesehatan mental dan psikososial dalam tingkat sedang dari sepertiga responden. Sebanyak 15,3 persen siswa SD, 18 persen siswa SMP dan 16 persen siswa SMA mengaku sering mendapat perlakuan tindak kekerasan di sekolah. Pelaku kekerasan di sekolah dilakukan oleh guru 14,7 persen dan sesama teman di sekolah 35,3 persen.
Siswa di Indonesia kurang memiliki kebebasan dalam memilih apa yang mereka sukai. Hal ini mengakibatkan rendahnya rasa percaya diri, kurangnya motivasi, dan terpendamnya bakat-bakat berharga yang ada. Bukankah mereka memiliki hak untuk berkembang? Siswa juga manusia yang sudah selayaknya diperlakukan sebagai manusia. Dengan memanusiakan manusia maka generasi penerus bangsa diharapkan dapat semakin memahami akan jati dirinya, untuk selanjutnya memimpin negeri ini mencapai cita-citanya.
            Harapannya adalah guru dapat mengembangkan serta memperkaya diri dengan berbagai macam strategi pembelajaran. Pengurangan dominasi guru di kelas akan meningkatkan keefektifan belajar siswa. Siswa akan semakin aktif dan kreatif. Hal itu akan lebih mengoptimalkan kemampuan dan kecerdasan masing-masing anak. Penting untuk kita sadari bahwa setiap anak memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Jadi, mengenali karakter generasi penerus bangsa sangat penting untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi.  Apabila pembelajaran aktif sudah tercipta, masihkah guru disebut sebagai seorang pembunuh?

Armstrong, T. 1994. Multiple Intelligences in the Classroom.Alex­andria, VA: Association for Supervision and Cur­riculum Development.
Koesoema, Doni  A. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. PT Grasindo:Jakarta
kappa.binus.ac.id.(diunduh pada tanggal 22 September 2011 jam 22:29)
KOMPAS.com(diunduh pada tanggal 22 September 2011 jam 22:25)
http://majalah.tempointeraktif.com (diunduh pada tanggal 22 September 2011 jam 22:19)

http://pendidikan.net/ (diunduh pada tanggal 22 September 2011 jam 22:20)
http://www.detiknews.com(diunduh pada tanggal 24 September 2011 jam 21:29)
 

keep smile n full spirit ^ Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting